I walked through that door.
Seeing you laughing with her.
Seeing you giving that smile you used to gave me.
Talking to her like we used to.
The way you call her.
The way you see her and look into her eyes.
I can't hold it no more.
My heart hurts.
Seeing you with her.
I just don't wanna see you anymore.
I am happy for you.
I am.
Please just please.
Please do not act like you don't know how i feel.
Your happiness is mine too and i will be so glad if you are.
I just wanna see you happy.
See you laughing.
I might missing you and our memories.
But then i realize, it is now only a memory.
A memory that i cannot reach back.
A memory that lasts forever.
I hope you are happy.
I hope you are okay.
I hope she is that one person you always think about.
things that you are actually looking for which makes you wanna know more and try to understand more.
Friday, June 6, 2014
Walked through that door.
Jarak.
Aku menatap wajahmu.
Setiap kali kau tersenyum.
Setiap kali kau tertawa.
Tawamu selalu membangkitkan semangatku.
Candamu selalu mewarnai hariku.
Saat aku ditampar oleh kenyataan bahwa kau dan aku berada pada tempat yang berbeda, aku menangis.
Menangis dalam kesedihan yang kututupi selama ini.
Aku selalu salah, mencintai pada saat yang salah.
Mencintai pada waktu yang tidak tepat.
Saat aku akan meneruskan studiku.
Saat kau harus meneruskan pekerjaanmu.
Tempat yang jauh, ribuan mil jauhnya.
Hari terakhir sebelum aku pergi, kau datang.
Kau datang menghampiriku.
Kau datang dan ada untuk aku.
Kau mengatakan tentang perasaanmu padaku.
Seandainya, kau mengatakannya lebih awal.
Mungkin kita tidak akan seperti ini.
Mungkin.
Setiap kali kau tersenyum.
Setiap kali kau tertawa.
Tawamu selalu membangkitkan semangatku.
Candamu selalu mewarnai hariku.
Saat aku ditampar oleh kenyataan bahwa kau dan aku berada pada tempat yang berbeda, aku menangis.
Menangis dalam kesedihan yang kututupi selama ini.
Aku selalu salah, mencintai pada saat yang salah.
Mencintai pada waktu yang tidak tepat.
Saat aku akan meneruskan studiku.
Saat kau harus meneruskan pekerjaanmu.
Tempat yang jauh, ribuan mil jauhnya.
Hari terakhir sebelum aku pergi, kau datang.
Kau datang menghampiriku.
Kau datang dan ada untuk aku.
Kau mengatakan tentang perasaanmu padaku.
Seandainya, kau mengatakannya lebih awal.
Mungkin kita tidak akan seperti ini.
Mungkin.
Sunday, June 1, 2014
Pelukan
Malam itu aku merasakan pelukanmu.
Pelukan hangat yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
Pelukanmu begitu hangat.
Pelukanmu begitu nyaman, sampai-sampai aku tidak ingin melepaskanmu.
Pelukanmu adalah tempatku bernaung.
Tempatku bisa merasakan kenyamanan yang lebih nyaman daripada tempat tidur dan selimut kesayanganku.
Saat itu aku datang kepadamu dan berdoa untukmu.
Kau berterima kasih dan memberiku sebuah pelukan hangat.
Kuingat pula, kau mendoakanku.
Kau menguatkanku dengan doamu.
Ditambah lagi dengan pelukan yang kau berikan saat kau berdoa untukku.
Seusai berdoa, kau memelukku lebih erat, seakan kau tidak ingin melepaskanku.
Kau memelukku bagaikan bayi yang sedang memeluk bonekanya saat tidur.
Pelukan hangat dan nyaman.
Tapi keadaan membuat kau dan aku tidak bisa terus bertahan disana.
Aku berusaha sekuatku melepas pelukan darimu, tapi kamu masih memelukku.
Sampai akhirnya kita saling melepas dengan rela.
Semua doamu sangat berarti bagiku.
Semua doamu menjadi pegangan untukku.
Percaya padaku, ini hanya sementara.
Kau adalah “refrain”-ku.
Menahan diriku untuk memelukmu, merasakan kehangatan dalam pelukanmu.
Kau adalah “refrain”-ku.
Sampai bertemu lagi, di lain waktu.
Aku hanya ingin kau tau, aku menantimu.
Pelukan hangat yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
Pelukanmu begitu hangat.
Pelukanmu begitu nyaman, sampai-sampai aku tidak ingin melepaskanmu.
Pelukanmu adalah tempatku bernaung.
Tempatku bisa merasakan kenyamanan yang lebih nyaman daripada tempat tidur dan selimut kesayanganku.
Saat itu aku datang kepadamu dan berdoa untukmu.
Kau berterima kasih dan memberiku sebuah pelukan hangat.
Kuingat pula, kau mendoakanku.
Kau menguatkanku dengan doamu.
Ditambah lagi dengan pelukan yang kau berikan saat kau berdoa untukku.
Seusai berdoa, kau memelukku lebih erat, seakan kau tidak ingin melepaskanku.
Kau memelukku bagaikan bayi yang sedang memeluk bonekanya saat tidur.
Pelukan hangat dan nyaman.
Tapi keadaan membuat kau dan aku tidak bisa terus bertahan disana.
Aku berusaha sekuatku melepas pelukan darimu, tapi kamu masih memelukku.
Sampai akhirnya kita saling melepas dengan rela.
Semua doamu sangat berarti bagiku.
Semua doamu menjadi pegangan untukku.
Percaya padaku, ini hanya sementara.
Kau adalah “refrain”-ku.
Menahan diriku untuk memelukmu, merasakan kehangatan dalam pelukanmu.
Kau adalah “refrain”-ku.
Sampai bertemu lagi, di lain waktu.
Aku hanya ingin kau tau, aku menantimu.
Thursday, May 8, 2014
Kehadiranmu
Kamu datang dan mengubahku
Kamu datang dan membawa cahaya
Kamu disini untukku
Atau disini untuk mengajariku sesuatu?
Aku tidak mendambakan cinta
Aku tidak menginginkan apapun
Aku hanya butuh seseorang
Yang bisa menemaniku
Mengingatkanku akan waktu
Mengajariku apa arti hidup yang sesungguhnya
Saat aku tenggelam
Dalam khayalanku
Kamu datang dan membawa cahaya
Kamu disini untukku
Atau disini untuk mengajariku sesuatu?
Aku tidak mendambakan cinta
Aku tidak menginginkan apapun
Aku hanya butuh seseorang
Yang bisa menemaniku
Mengingatkanku akan waktu
Mengajariku apa arti hidup yang sesungguhnya
Saat aku tenggelam
Dalam khayalanku
Thursday, May 1, 2014
The day i met you.
Roses are red
Violets are blue
Love never crossed my mind
Until the day i met you.
(Agatha Hermawan)
2014.
Tuesday, January 21, 2014
FIREWORKS
“Don’t kiss me during the fireworks. Kiss me after and give everyone else something to look at once chaos has passed. Don’t kiss me when you don’t know what else to say, kiss me when that’s all that needs to be said. Don’t kiss me at all the right times, kiss me mid sentence because my lips were moving, and you were jealous of the air because they weren’t moving on yours. Don’t read up on old fairy tales I don’t want a fairy tale. I want real and in the moment. So kiss me when you’re up in flames and about to burst. Kiss me when the tears are doing all the work. Kiss me hard and kiss me good."
“Ayah, Aku ingin pulang.”
Ayah, Aku ingin pulang.
Hujan yang tak kunjung berhenti
Mengguyur ibu kota Indonesia
Semakin hari kian bertambah
Air yang menggenangi kota ini
Kota yang semestinya
Memiliki tujuan sebagai tempat wisata
Sebagai tempat bekerja
Musnahlah sudah
“Aku kedinginan, Ayah“
Aku merasa tidak nyaman
Ayah memelukku dengan hangat dan berkata,
“Saat hujan reda, kita bisa pulang, Nak.”
Kapankah hujan itu akan berhenti
Kapan Aku bisa bersekolah lagi
Menikmati hangatnya mentari
Menikmati udara hangatnya Jakarta
“Ayah, Aku lelah”
“Tidurlah, Nak. Esok matahari akan datang.”
Akupun terlelap dalam tidurku
Saat aku bangun, Ayah terbaring lemah
Ayah tak mampu berdiri
Bibirnya biru, kedinginan
Ia menggigil
Kemana orang-orang pemerintah
Kemana mereka saat kami dilanda kesusahan
Kenapa mereka tidak ada disini
Apakah kami tidaklah lagi penting
“Apakah kami, bukan lagi warga yang dianggap?”
Hujan yang tak kunjung berhenti
Mengguyur ibu kota Indonesia
Semakin hari kian bertambah
Air yang menggenangi kota ini
Kota yang semestinya
Memiliki tujuan sebagai tempat wisata
Sebagai tempat bekerja
Musnahlah sudah
“Aku kedinginan, Ayah“
Aku merasa tidak nyaman
Ayah memelukku dengan hangat dan berkata,
“Saat hujan reda, kita bisa pulang, Nak.”
Kapankah hujan itu akan berhenti
Kapan Aku bisa bersekolah lagi
Menikmati hangatnya mentari
Menikmati udara hangatnya Jakarta
“Ayah, Aku lelah”
“Tidurlah, Nak. Esok matahari akan datang.”
Akupun terlelap dalam tidurku
Saat aku bangun, Ayah terbaring lemah
Ayah tak mampu berdiri
Bibirnya biru, kedinginan
Ia menggigil
Kemana orang-orang pemerintah
Kemana mereka saat kami dilanda kesusahan
Kenapa mereka tidak ada disini
Apakah kami tidaklah lagi penting
“Apakah kami, bukan lagi warga yang dianggap?”
Subscribe to:
Posts (Atom)